Stay Inspired
Emily Jaury, dari Coba-coba Hingga Memiliki Gerai Sendiri
28 Desember 2016
3954 view

Industri fashion di Indonesia sedang bergeliat pesat, nih. Salah satu buktinya bisa kamu lihat dari semakin banyaknya online shop dalam bidang fashion yang bermunculan. Salah satu yang cukup populer di kalangan fashonista Indonesia adalah Love and Flair. Berawal dari coba-coba, Love and Flair berhasil membuka pop-up store di Mall Plaza Indonesia, Jakarta.

Nah, kesuksesan tersebut nggak lepas dari tangan Emily Jaury, salah satu pendiri Love and Flair. Berbagai tantangan sudah berhasil ia taklukkan, mulai dari ditentang orangtua, nggak tidur semalaman, hingga produk yang ia beli dicuri di negara orang. Namun, hal tersebut sama sekali nggak menghalanginya untuk tetap fokus mendirikan Love and Flair, lho. Simak kisah perjalanannya di bawah ini!

 

From Finance To Fashion

Sudah berapa banyak orang yang memiliki pekerjaan di bidang yang melenceng dari jurusan kuliahnya dulu? Tambahkan nama Emily Jaury dalam daftar tersebut. Selama tahun 2012-2014, Emily kuliah di USC Marshall School of Business, LA, Amerika Serikat dengan mengambil jurusan finance. Selama tinggal di sana bersama sahabatnya, Dewi Purwati, Emily senang melakukan online shopping.

Menurutnya, online shopping benar-benar nyaman dan praktis, “I think it’s very convenient. Bisa browsing dari rumah, return, exchange, jadi kalau nggak suka setelah dicoba pun bisa langsung dikembalikan.”

Dari situlah Emily mulai tertarik membuka bisnis pada bidang fashion. Terlebih, fashion memang menjadi salah satu passion dalam hidupnya. Namun, keinginan tersebut sempat terhalang oleh restu dari orangtua. Bagaimana pun juga, Emily memiliki latar belakang finance yang cukup kuat. Kedua orangtuanya menyarankan Emily untuk bekerja di bank atau accounting firm. Emily pun sempat bekerja sebagai intern di tempat kerja orangtuanya. Meski begitu, ia tetap merasa nggak cocok bekerja di bidang finance. Kalau tetap dilanjutkan pun pasti nggak bakal passionate. Begitu menurutnya.

Ketika mendekati masa kuliahnya yang hampir selesai, ia menyadari bahwa harus segera kembali ke Indonesia. Bersama Dewi yang kini menjadi partner bisnisnya, Emily berpikir bahwa pada saat itu, fashion online store di Jakarta memiliki potensi. Ide untuk membuat online store pun akhirnya tercetus begitu saja.

Menariknya, belum memulai bisnis, Emily sudah dihadapkan dengan suatu tantangan. “Berdua di Amerika, nggak tahu market di Jakarta, cari produk di mana. Susahnya di situ. Biasanya, orang mulai dari produk baru cari cara untuk menjual. Nah, kami tahu gimana cara jual, tetapi nggak ada produknya.”

Untuk mengatasi hal itu, Emily dan Dewi memutuskan memesan dua puluh baju dari supplier di Tiongkok untuk dikirim ke apartemen mereka di LA. Hingga dua bulan menjelang kelulusan, Emily bingung apakah harus menunggu lulus untuk mulai berjualan atau langsung menjualnya begitu saja. Singkat cerita, setelah berunding, keduanya memutuskan membuat look book dari baju-baju yang sudah dibeli.

Agar menghasilkan kualitas foto produk yang keren, mereka melakukan road trip ke berbagai lokasi bagus dan menarik. Setelah sesi foto produk tersebut selesai, selanjutnya dua sahabat ini membuat business plan untuk diberikan kepada orangtua Emily. Mereka bahkan langsung membuat website agar orangtua Emily bisa langsung melihat produk-produk yang dijual.

Sayangnya, usaha untuk meyakinkan orangtua Emily tersebut belum berhasil. “Sudah jauh-jauh sekolah, masa jualan baju? Semua orang juga bisa,” begitu pikir orangtuanya, seperti yang dituturkan Emily.

Akhirnya, Emily pun meyakinkan orangtuanya agar memberi waktu selama dua tahun untuk menjalankan bisnis online shop tersebut. Jika sampai waktu yang ditentukan Emily tidak dapat menunjukkan perkembangan signifikan, maka ia akan bekerja di bank.

Baca juga: Alamanda Shantika, Membangun Startup dengan Mental Baja

 

Fokus Menjual Brand Buatan Lokal

Berkat restu orangtua yang memberinya izin untuk berbisnis selama dua tahun tersebut, Emily tak membuang waktu yang ada untuk segera memulai. Ia bahkan tidak sempat berpikir bahwa produknya bakal terjual ke ribuan orang. Yang terpenting untuknya, setiap ada ide, ia langsung lakukan.

Soal pemilihan nama Love and Flair pun sebenarnya tidak memiliki arti tertentu karena ia dan partner menginginkan nama catchy dan mudah diingat. “Ada ide buat namanya, let’s run with it!” jelasnya singkat.

Awal mula mendapatkan produk pakaian, Emily dan Dewi menyeleksi & membeli pakian dari beberapa negara seperti Tiongkok, Singapura, dan Thailand. Bisa dibilang bahwa saat itu ia masih menjadi reseller dari para supplier di negara-negara tersebut. Meski harus bolak-balik terbang ke negara orang, berkunjung dari toko ke toko, dan membeli pakaian-pakaian, sambil menyeret koper-koper, Emily justru merasa senang karena hal tersebut sejalan dengan hobi traveling-nya.

Sambil traveling, sekaligus mencari inspirasi untuk diterapkan pada produk pakaiannya tersebut. Berbagai pengalaman menarik, baik positif maupun negatif, sudah pernah dihadapinya bersama sang partner. Salah satunya ketika koper berisi pakaian yang akan dijual tiba-tiba dicuri orang di Tiongkok.

In the beginning, kita kan ke Tiongkok. Kita ke supplier-supplier, bawa koper, naik becak. Ada kakek-kakek pura-pura jadi porter bawain koper kita. Tiba-tiba, dia main lari sama koper kita. Padahal, kita sudah habisin tiga hari dan banyak budget untuk belanja produk,” paparnya mengingat momen tak terlupakan itu.

“Semua uang dan barang kita ada di dalam koper. Kita lari-lari ngejar sekitar lima puluh menit, tetapi untungnya koper itu bisa balik,” lanjut Emily.

Lambat laun, Emily mulai menyadari bahwa semakin banyak online shop yang menjual produk-produk dari berbagai negara lain dengan sistem pre-order (PO). Mayoritas dari para penjual online shop itu tidak takut membanting harga. Namun bagi Emily, Love and Flair tidak akan sustainable atau bertahan lama jika harus terus mengikuti kompetisi harga yang ada.

Seiring berjalannya waktu, Emily mulai menyadari bahwa ternyata Indonesia memiliki produk lokal yang kualitasnya tidak kalah bagus dengan produk luar. Sementara saat itu ia masih menjual produk-produk dari supplier di luar negeri.

Menanggapi hal ini, Emily punya pemikiran tersendiri, “Something that I’ve always learned is that if you cannot beat them, you join them.

Berangkat dari pemikiran itu, Emily pun melakukan pendekatan pada beberapa desainer lokal. Sambutan mereka ternyata cukup hangat untuk diajak berkolaborasi dengan Love and Flair. Meskipun awalnya hanya berhasil mengajak lima brand lokal, kini jumlah brand lokal yang bekerja sama dengannya bertambah menjadi dua puluh. Di sisi lain, Emily tetap menyaring setiap brand lokal yang masuk untuk menjaga otentisitas Love and Flair.

Untuk menjaga otentisitas Love and Flair, Emily dan sang partner melakukan shifting. Dari yang semula menjual barang dari luar negeri, kini ia dan sang partner menerapkan konsep multibrand pada online store-nya tersebut.

“Setelah itu kita ngerasa, ‘Oh, I think we have already know what people like, what sells the best, what doesn’t sell, dan lain-lain.’ Kita jadi confident dan mulai memproduksi label kita sendiri sehingga nggak beli lagi di luar negeri. Sekarang, kita merupakan multibrand site, yang terdiri dari label kita sendiri dan produksi made in Indonesia,” ungkap Emily.

Nilai lokal inilah yang menjadi salah satu keunggulan Love and Flair. Emily mengatakan bahwa harga dan kualitas yang dimiliki oleh produk-produk brand lokal sama sekali nggak kalah dari buatan luar negeri. Selain itu, Love and Flair selalu mengusung model pakaian yang simpel, tetapi tetap mampu memberikan statement kepada siapapun yang mengenakannya. Tidak hanya itu, lebih dari sekadar brand, Love and Flair juga menjual esensi lifestyle melalui produk-produknya.

“Produk-produk kami ditujukan for a girl who has five minutes to dress up. Nggak mau ribet, tetapi masih tetap ingin tampil fashionable. Intinya, dressing up easier for girls,” kata Emily.

 

Feedback Positif dari Pelanggan

Melihat kesuksesan Love and Flair, kini kedua orangtua Emily sepenuhnya mendukung bisnis putrinya tersebut. Terlebih, berkat bisnisnya tersebut, Emily kini sudah bisa mandiri secara finansial dan kedua orangtuanya sangat menghargai usaha putri mereka ini.

Suatu kali, secara tak sengaja, orangtua Emily bertemu dengan salah satu pelanggan yang ternyata salah satu customer Love and Flair. Ketika itu, orangtua Emily sedang dalam pesawat menuju Yerusalem. Di pesawat tersebut mereka duduk di sebelah seorang wanita. Ibu Emily dan wanita tersebut pun mengobrol banyak hal, termasuk tentang anak mereka masing-masing. Ketika ibu Emily bercerita bahwa anaknya memiliki online store bernama Love and Flair, wanita tersebut mengaku bahwa ia dan keluarganya sering order pakaian di sana.

“Aku seneng dengar orang bilang suka dengan apa yang kami jual. They don’t have to say nice things about it, but they do,” ungkap Emily.

 

Pesan Emily untuk Kamu yang Ingin Mulai Berbisnis

Bagi para entrepreneur yang baru terjun di dunia bisnis atau punya rencana untuk membuka online store, Emily punya pesan untuk kamu. Pertama, pastikan bahwa kamu sudah memiliki produk yang bakal dijual.

Biggest challenge waktu itu kita udah tahu gimana cara jualnya, tetapi belum ada produk. That’s our mistake,” kata Emily.

Kedua, Emily menganjurkan kamu untuk nggak menunggu terlalu lama. Kalau kamu terus menunggu momen yang sempurna, kamu nggak bakal pernah siap. Jadi, mulailah dengan segera. Kamu masih bisa belajar sambil mengelola bisnis kamu, seperti yang selalu dilakukan Emily selama ini.

Last but definitely not least, kelola bisnis kamu karena alasan yang benar. Menurut Emily, sekarang banyak orang yang ingin menjadi entrepreneurs. Sayangnya, mayoritas dari mereka melakukan hal tersebut hanya karena melihat tren berbisnis atau ingin terbebas dari aturan jam kerja kantoran. Kalau hal tersebut merupakan alasan utama kamu dalam menjadi entrepreneur, bisnis kamu sulit bertahan lama.

Berawal dari iseng sampai berhasil membuka gerai di mall ternama di Jakarta, ternyata keberhasilan bisnisnya ini nggak mudah membuat Emily merasa puas. Baginya, masih banyak yang harus terus ditingkatkan dan dipelajari, baik skill personal atau kualitas kinerja Love and Flair. Maka, Emily dan timnya terus bekerja keras mewujudkan hal tersebut. What an inspiring young woman!

Baca juga: Aulia Halimatussadiah, Pemimpin Belasan Bisnis & Penebar Semangat Women Empowerment

www.acerleration.com
Copyright © 2019 PT. Acer Indonesia. All Rights reserved