Stay Inspired
Ala: Membangun Startup dengan Mental Baja
28 Desember 2016
2046 view

 

Alamanda Shantika Santoso, dengan posisi terakhirnya sebagai Vice President Technology Product di Go-Jek ini telah memulai karir di dunia startup sejak umur 21 tahun. Perempuan yang akrab disapa Ala ini punya pengalaman membangun tim teknologi di Go-Jek yang kini berjumlah lebih dari 130 orang. Tanggung jawab terakhir Ala di Go-Jek adalah membantu mengembangan sumber daya 1.700 orang dan menyebar nilai-nilai kecepatan, inovasi, dan dampak sosial dalam perusahaan Go-Jek.

Saat mengambil keputusan untuk keluar dari Go-Jek dirasakan Ala begitu berat. Sebab Go-Jek sudah dianggap seperti anaknya sendiri yang sudah dibesarkannya dari lahir hingga tumbuh besar seperti sekarang ini. Namun, karena keinginan Ala melakukan hal yang lebih besar untuk bangsa ini, rasa berat itu pun perlahan harus dihapus.

Melalui tekad bulat, sosok yang kerap disebut sebagai “Umi” para programmer Go-Jek ini memutuskan untuk meninggalkan kursi Vice President. "Bekal untuk Go-Jek sudah cukup, jadi saya lega juga ninggalinnya. Sekarang saatnya saya berbagi bekal untuk teman-teman lain yang mau bangun startup," tuturnya. 

Kepada Acerleration, Ala menceritakan pengalaman karirnya bagaimana kisah awal Ala membangun startup lalu berkolaborasi dengan banyak pihak untuk membesarkan startup tersebut hingga menjadi sukses.

"Awalnya aku nyemplung di dunia coding sejak umur 14 tahun. Aku belajar sendiri, pas kuliah papa sakit aku harus cari uang sendiri," ungkap Ala mengisahkan perjalanannya di masa lalu.

Menurut penuturannya, Ala berusaha membangun sendiri startup miliknya sejak muda. Saat itu teman-temannya tahu Ala menekuni coding dan mendesain produk sejak kecil. Apalagi, setelah teman-temannya juga tahu papanya sakit dan Ala harus mencari uang sendiri, saat itulah ‘pesanan’ pertamanya datang dari seorang teman.

Produk pertama Ala yang diminta dari temannya yaitu, membangun sebuah brand dan website untuk produk celana jeans di Lembang, Bandung. Mulai dari membantu permintaan temannya, kemudian keahlian coding Ala semakin dikenal dari mulut ke mulut. Karir Ala pun berkembang hingga mendapatkan banyak permintaan untuk mengerjakan proyek website. Saking tidak bisa bekerja sendiri karena permintaan yang terus bertambah, perempuan berkacamata ini mulai merekrut pegawai untuk membantu pekerjaannya.

"Aku rekrut orang untuk tim itu ada tujuh. Sedikit memang untuk sebuah startup. Tapi, dari situ aku bisa menghidupi diriku sendiri dan timku, untuk makan, dan kuliah," ujarnya.

 

Banyak yang Harus Dipikirkan dalam Membangun Startup

Usai kuliah, startup miliknya masih tetap berjalan. Namun, akhirnya Ala memutuskan untuk bekerja dengan orang lain. Alasannya karena untuk belajar membangun startup sendiri dari awal itu harus dulu merasakan bagaimana bekerja dengan orang lain.

"Aku melihat ada perbedaan saat kita bekerja untuk orang dan punya startup. Kalau kita kerja sama orang kan berasa punya mentor. Aku harus belajar sama orang dan harus liat berbagai macam bos di dunia ini," aku Ala.

Ketika bekerja di perusahaan orang, Ala juga belajar dalam membangun perusahaan sendiri, tidak hanya inovasi produk yang perlu dipikirkan, tetapi juga harus peduli pada kesejahteraan para pegawai. Menurut pandangannya, jika sudah menggaji karyawan dengan baik, otomatis karyawan semangat bekerja, dan berinovasi dalam mengeluarkan ide-ide terbaik mereka.

“Bikin company itu enggak mudah, makanya saya meyakinkan ke startup baru untuk bangun perusahaan, bukan hanya produk tapi harus mikirin semua. Dari A sampai Z harus sudah terencana. Karena memang tidak mudah menjadi founder sebuah startup," ungkapnya mantap.

 

Jatuh Bangun Sebelum Sukses Itu Penting

Mungkin, saat ini kamu bisa melihat Ala pernah sukses di Go-Jek dan kini di perusahaan tempat ia baru bekerja, FemaleDev. Namun, kita tidak pernah tahu perjuangan jatuh-bangun Ala saat membangun startup miliknya. Perempuan bertubuh mungil ini bahkan sampai trauma tidak mau nonton film di bioskop lagi.

Ceritanya, saat itu Ala sedang sedang menikmati film di bioskop, tiba-tiba Ala mendapat telepon dari seorang klien yang marah karena website miliknya tiba-tiba down. Sementara saat itu Ala sama sekali tidak membawa peralatan perangnya (laptop).

"Aku biasanya tuh ke mana-mana pasti bawa laptop. Waktu nonton, aku nggak bawa sama sekali. Klien telepon aku, aku kaget pas dibilang mau dilaporin ke polisi. Sampe aku pernah bilang ke tim shutdown untuk tutup semua, trus sales aku sampe susah nyari aku. Yang jelas aku trauma, nggak mau nonton lagi," ujar Ala sembari tersenyum mengingat kejadian itu.

Untungnya, kondisi itu nggak bertahan lama. Keterpurukan itu hanya sebentar, karena Ala dan tim bisa bangkit kembali. Menurutnya, soal jatuh dan keterpurukan itu bukan karena soal uang, melainkan mental. Ala menegaskan bahwa setiap founder startup harus memiliki mental baja yang meski digoyang sampai jatuh, bisa bangkit segera dengan semangat baru.

Perjalanan karir Ala pun berlanjut. Ala mulai dikenal saat dirinya bekerja di Kartuku. Inilah awal mula dirinya bisa menduduki jabatan sebagai Vice President Go-Jek. Mengapa? Karena di sinilah dia bertemu dengan pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim.

Berawal dari merancang proses pemesanan ojek melalui customer service hingga menjadi sebuah startup dengan aplikasi, terciptalah Go-Jek yang hebatnya berhasil dikerjakan dalam waktu tiga bulan.

Selama membangun aplikasi Go-Jek, Ala menuturkan bahwa dirinya dan Nadiem tidak pernah berselisih soal visi ataupun misi mereka masing-masing. Hal ini karena Ala dan Nadiem mendirikan Go-Jek dengan satu visi, yakni social impact.

"Kami bangun Go-Jek saat itu dengan satu visi, yakni social impact. Kami nggak pernah beda pendapat, melainkan saling mengingatkan satu sama lain. Di sini tidak ada perbedaan satu sama lain, nggak mandang title ataupun jabatan, jadi saling kasih saran ataupun share. Dulu aku sering marahin Nadiem, karena kalau kita benar, nggak usah takut," ungkapnya.

Ternyata, tak hanya di perusahaan startup miliknya sendiri Ala mengalami proses jatuh-bangun. Saat bersama Go-Jek, dirinya juga pernah mengalami keterpurukan. Hal ini dikarenakan server tidak mampu menampung permintaan yang banyak dari social impact itu sendiri.

"Pernah ngalamin jatuh lagi. Saat it server Go-Jek down, kita planning 3 bulan segini, nggak tahunya berlebih. Nah, di dalam Go-Jek saat itu belum pada siap. Jadi kita belajar banyak saat itu juga," kenangnya kembali.

Baca juga: Emily Jaury yang memulai dari coba-coba, hingga memiliki gerainya sendiri

 

Kembali ke Indonesia Jadi Menteri Pendidikan

Malang melintang di dunia startup, saat ini Ala telah mendirikan dua perusahaan, Nama Studio dan Pijar Imaji. Pada perusahaan yang telah dibangunnya ini, Ala ingin melatih dirinya sendiri sebagai seorang founder dan mau membentuk ekosistem yang baik di dalamnya.

Tak hanya menjadi seorang founder, Ala pun kini menjadi salah satu penggerak di Gerakan Nasional 1000 Startup Digital bersama Kibar. Perempuan berambut sebahu ini akan mengemban peran penting di Kibar, yaitu bertugas mendorong ekosistem bisnis digital, sehingga dapat melahirkan 1.000 startup pada 2020 melalui gerakan tersebut. Saat in, Acer juga terlibat dalam mendukung gerakan ini sebagai Official Technology Partner.

Selain menjadi founder startup, Ala juga punya cita-cita yang mungkin membuat kamu akan terkejut. Ala ingin dalam lima tahun ke depan sudah harus berada di Stanford untuk kuliah meraih gelar PhD.

"Aku mau kuliah dan pulang dengan gelar PhD bidangnya neuro science, nantinya saya balik ke Indonesia itu untuk jadi seorang Menteri Pendidikan," ungkapnya dengan semangat menggebu-gebu.

 

Tips Sukses Membangun Startup

Ala pun dengan berbaik hati berbagi tips bagaimana membangun startup yang sukses. Hal yang utama adalah ekosistem di dalamnya harus sehat terlebih dahulu. Intinya, tidak ada pembajakan lagi. Menurut Ala, daripada berkompetisi lebih baik berkolaborasi antar-startup.

"Para founder tidak berhenti belajar dan membaca buku. Ikut acara seperti ini (Gerakan Nasional 1000 Startup Digital) atau workshop lainnya. Karena untuk bisa sukses, tidak boleh takut gagal. Belajar bukan hanya untuk membuat produk, tapi juga untuk membuat perusahaan," tutup Ala.

Baca juga: Aulia Halimatussadiah, wanita yang membangun belasan bisnis & penggerak women empowerment

www.acerleration.com
Copyright © 2019 PT. Acer Indonesia. All Rights reserved